kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Geluti Bisnis Private Equity, Timothy memiliki Rp 1 Triliun Asset Under Management


Jumat, 06 September 2019 / 16:09 WIB


Tidak banyak orang yang menggeluti bisnis private equity yang dikelola Timothy Tandiokusuma. Di saat usianya menginjak 25 tahun, karena kerja kerasnya, Timothy telah membawahi 15 perusahaan dengan total asset under management mencapai Rp 1 triliun. Dari 15 perusahaan itu, Timothy kini tengah mengembangkan beberapa merek yang unggul di bidang masing-masing. Contoh portofolio Black Boulder Capital adalah Mixology, salah satu merek F&B yang sedang tren di sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Lampung, Bali dan Surabaya. 

“Kami ikut saham mixology di Bali dan Surabaya. Dalam waktu dekat, bisnis ini akan membuka outlet baru di beberapa kota lain lagi, dan kami berencana untuk ikut,” kata Timothy. Menurut Timothy, setelah Holywings menempati urutan pertama sebagai tempat hang out modern kawula muda, di urutan berikutnya adalah Mixology.

“Proyek yang akan kami pilih untuk diikuti biasanya perusahaan yang sudah punya track record cukup baik. Ketika mereka memulai proyek baru, kita ikut di situ, sehingga meminimalisasi resiko gagal yang ada,” tutur Timothy.  

Dengan label Black Boulder Capital, Timothy mengakui,  private equity yang dikelolanya ini, juga mempunyai saham di sebuah merek nail dan bulu mata ‘Joanne Studio’. Joanne adalah merek eyelash extension terbesar di Indonesia yang memiliki 33 cabang di lebih dari 10 kota.

“Industri kami yang lain adalah money market. Kami juga berinvestasi di dunia saham, komoditas dan derivatif. Kami berinvestasi di  saham Amerika dan Indonesia,” ujar Timothy. 

Menurut Timothy keberhasilannya mengelola perusahaan melalui proses panjang. Sejak berusia 17 tahun, ketika berkuliah di Seattle University, Timothy  memulai bisnis pertamanya yaitu perusahaan majalah yakni Vuelto Magazine, majalah berbahasa Indonesia di Seattle. Kemudian, selama di Amerika, sembari kuliah, dia juga merambah bisnis impor kopi Indonesia, karena Seattle dikenal sebagai tempat lahirnya retail gerai kopi terbesar dunia Starbucks.

“Di Amerika ada banyak distributor. Kita mempunyai perusahaan di Amerika dan mengimpor kopi dari Indonesia,” kata pemuda yang memilih drop out dari University of Washington, salah satu universitas terbaik di dunia, agar dia bisa memiliki lebih banyak waktu luang untuk fokus membangun perusahaan majalahnya.

Setelah empat tahun di Amerika, lulusan Seattle University dengan  Cum Laude ini pun kembali ke Indonesia. Tidak ingin bergantung di bawah bisnis keluarganya di Surabaya, Timothy merantau ke ibu kota Jakarta. Dengan modal Rp 1 miliar – tabungan dari hasil usahanya selama di Amerika – Timothy pun menjadi investor kecil-kecilan.  Sayangnya, yang di investasikan Timothy gagal hampir semuanya. Timothy bangkrut di usia 23 tahun. Dengan modal kegigihan, dia memulai kembali, kali ini dengan dukungan dari teman-teman dekatnya, mengelola uang mereka dan memutarnya di dunia money market. Kursus dan seminar diikutinya untuk mengasah kemampuan. Terobosannya ini tidak sia-sia. Sejumlah teman mempercayakan modalnya, dari awalnya  Rp 25 juta hingga 50 juta. Hingga kini banyak teman-temannya mempercayakan miliaran rupiah, untuk diputar di sektor riil.

Seiring waktu, semakin banyak yang memberikan kepercayaan kepadanya. 

“Uangnya di investasikan ke perusahaan-perusahaan yang sudah berjalan. Di bawah kita ada 15 perusahaan dan BBC menjadi pemilik saham pasif atau hanya sebagai advisor semi pasif,” ucapnya.

Kendati demikian, mereka juga siap menjadi pemilik saham aktif. Salah satunya adalah proyek Premium Outlet di kawasan Soewarna di Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Black Boulder Capital akan bekerja sama dengan Presiden Direktur Prestige Image Motors, Rudi Salim. Dan, jika berjalan sesuai timeline, pada 2021 areal seluas 14 ribu meter persegi itu sudah bisa dibuka. Premium Outlet itu akan menjadi yang pertama di Indonesia.

“Di Indonesia banyak factory outlet, misalnya di Bandung untuk merk market menengah ke bawah. Di luar negeri banyak konsep di mana premium outlet mempunyai tenant-tenant merek premium, misalnya Nike, Coach, Michael Kors dengan harga premium. Namun ketika barang-barang itu tidak lagi dipakai lantaran telah lewat musim atau defect atau dari pabrik bermasalah sehingga mereka tidak bisa menjual ke toko-toko ini, mereka ‘melempar’-nya ke premium outlet. Premium inilah yang akan menjadi project plan kita,” ujarnya.

Saat ini, Timothy tetap optimis membangun perusahaan di bidang asset manajemen. Diakuinya, masih ada tantangan yang harus dilewati. Salah satunya, kepercayaan perusahaan atau group untuk menanamkan asetnya pada Black Boulder Capital.

“Kami tahu, kami masih muda. Ini menjadi tantangan bagi kami jika masih ada yang belum mengenal dan percaya pada kami. Namun, apapun yang diberikan pada kami, akan kami tekuni,” kata Timothy.  (*)

 

 


Reporter: Sponsored
Editor: Evelyne Lee

Tag
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0125 || diagnostic_api_kanan = 0.0024 || diagnostic_web = 0.2785

Close [X]
×